
SURAKARTA – Direktorat Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengambil langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait penyusunan University Academic Excellence Framework (UAEF) untuk jenjang Magister (S2) dan Doktor (S3).
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 6 Januari 2026, di Ruang Sidang 2 Gedung L Lantai 4 UMS ini menjadi momentum penting bagi revitalisasi tata kelola akademik dan riset di lingkungan pascasarjana.
Diskusi Terbuka Tanpa Sekat Struktural
Ada yang berbeda dalam gelaran FGD kali ini. Direktur Pascasarjana UMS, Prof. M. Farid Wajdi, M.M., Ph.D., mengaktifkan kembali forum lintas program studi ini dengan konsep yang lebih cair. Para peserta diundang secara personal tanpa membawa atribut jabatan struktural.
“Tujuannya agar diskusi berlangsung terbuka, lepas, dan jujur. Kami ingin melakukan brainstorming awal mengenai isu-isu krusial dalam tata kelola akademik dan pengembangan riset,” ujar Prof. Farid saat memimpin jalannya diskusi.
Menuju Institutional Support System (ISS)
Dalam sesi diskusi, beberapa pakar dan pimpinan memberikan catatan kritis untuk masa depan pascasarjana:
- Visi yang Terukur: Prof. Muzakar Isa, M.Si. menekankan pentingnya penegasan posisi Pascasarjana dalam Rencana Strategis (Renstra) UMS. Menurutnya, struktur senat akademik dan deskripsi kerja harus jelas agar kebijakan dapat dieksekusi dengan efektif hingga level terbawah.
- Reposisi Peran: Prof. Waluyo Adi Siswanto, M.Sc., Ph.D. memberikan pandangan tajam bahwa Direktorat Pascasarjana seharusnya berfungsi sebagai Institutional Support System (ISS). Fokusnya adalah pada penguatan riset, penyelenggaraan seminar, penjaminan mutu, dan supervisi riset S2–S3, sementara operasional akademik tetap berada di bawah kendali fakultas.
- Benchmarking Global: Senada dengan hal tersebut, Husni Thamrin, Ph.D. menambahkan bahwa di luar negeri, fungsi pascasarjana lebih condong pada dukungan non-operasional seperti manajemen referensi, pencarian jurnal, orientasi, dan penjaminan mutu kebijakan.
Menghindari “Raja-Raja Kecil”
Diskusi juga menyoroti pentingnya koordinasi yang harmonis antara program studi, fakultas, dan direktorat. Prof. Waluyo mengingatkan agar penguatan program studi dilakukan secara proporsional guna menghindari potensi ego sektoral atau “raja-raja kecil”, terutama dalam hal pengelolaan dana mandiri di tingkat prodi.
Langkah Selanjutnya
FGD perdana ini dihadiri oleh jajaran ahli dan pimpinan lintas disiplin, mulai dari Wakil Direktur Pascasarjana Prof. Marwan Effendy, hingga para Kaprodi dan tim pengembang kebijakan akademik seperti Dipa Nugraha Suyitno, Ph.D. dan Wibowo Heru Prasetiyo, Ph.D.
Sebagai penutup, Prof. Farid menyampaikan bahwa hasil dari brainstorming ini akan ditindaklanjuti dalam pertemuan rutin mendatang. Fokus selanjutnya adalah perumusan solusi konkret terkait penguatan komite akademik, peningkatan kualitas pembimbing, serta kebijakan riset yang lebih progresif.
Tentang Pascasarjana UMS: Direktorat Pascasarjana UMS terus berkomitmen menciptakan ekosistem akademik yang unggul guna mencetak lulusan S2 dan S3 yang kompetitif di kancah internasional.